12.15.2008

Kejujuran

Tulisan yang berhubungan



Sebagai orang yang beriman, mestinya kita harus berusaha berbuat jujur. Jujur itu dalam bahasa arabnya disebut ash-shidqu. Ash-Shidqu itu lawannya al-kadzibu (bohong). Ash-shidqu maupun Al-kadzibu adanya di dalam hati, kemudian berimbas pada perkataan dan perbuatan. Kalau ash-shidqu antara hati dan ucapan, dan perbuatan itu harus sama, sedangkan al-kidzbu, sebaliknya.


Ada bermacam-macam bentuk kejujuran, antara lain : jujur dalam hati, jujur dalam perkataan, jujur dalam kemauan, jujur dalam janji dan jujur dalam kenyataan hidup.
Pertama, jujur dalam hati (shidqu al-qalb). Artinya menghiasi hati dengan iman kepada Allah, sehingga ia bersih dari penyakit hati yang kotor. Hati yang seperti ini akan tercermin dalam niat yang tulus dan ikhlas.
Kedua, jujur dalam perkataan (shidqu al-qaul). Segala informasi yang disampaikan, pertanyaan yang diajukan, dan jawaban yang diberikan, semata-mata adalah kebenaran. Orang yang seperti ini akan dipercaya oleh siapa saja.
Ketiga, jujur dalam perbuatan (shidqu al-‘amal), termasuk dalam pergaulan (shidqu al-mu’amalah). Artinya segala perilaku sesuai dengan syari’at Islam. Dia tidak berkhianat. Dalam berbuat baik, dia tidak mengharapkan balasan, kecuali dari Allah SWT.
Keempat, jujur dalam kemauan (shidqu al-‘azam). Sebelum seseorang melakukan tindakan, maka dilakukan terlebih dahulu penilaian dan pertimbangan, kemudian diputuskan dan diniatkan untuk melakukan perbuatan tersebut. Jadi, kemauan itu dimantapkan setelah diyakini benar manfaatnya. Lalu, tidak terpengaruh oleh suara-suara orang lain yang mengomentarinya.

Kelima, jujur dalam janji (shidqu al-wa’ad). Seseorang tidak ingkar janji kepada siapapun, termasuk kepada anak kecil dan diri sendiri. Dalam surat Maryam, Allah memuji Isma’il yang suka menepati janji.
“Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Isma’il (yang tersebut) di dalam al-Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan Nabi" (QS. Maryam [19:54].
Keenam, jujur dalam kenyataan hidup (shidqu al-hal) orang yang apa adanya dalam bersikap, berkata maupun berbuat kapanpun dan dimanapun, tidak menambah-nambah atau mengurangi karunia Allah yang diberikan kepadanya. Jadi, tidak perlu merasa malu kalau mungkin ada kekurangan dalam diri kita. Dan tidak perlu mencoba merubahnya dengan segala upaya agar tidak terlihat oleh orang lain. Kecuali pada kenyataan hidup yang ditakutkan akan menjadi beban orang lain.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas partisipasinya

 

Kunjungan

Aktifitas

Uzy Ibni Muhammad Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template