12.15.2008

Hati dan Hati-Hati

Tulisan yang berhubungan



Di saat kita nikmati kebersamaan,banyak hal terlewatkan begitu saja, keceriaan, gelak-tawa dan senyuman mengalir begitu saja
Kalo saja cerita harus ditulis dengan tetesan mata, jangan lagi air mata dikuras jadi telaga, sebab selama empat abad.... tangisan kami menjadi samudera...
Apa yang kau harapkan dari sebuah hati? Apa pula hati? Bagaimana bisa menyelami hati? Apa yang harus dihati-hatikan dari sebuah hati?



Segumpal pertanyaan singgah, bila dirasakan ada amukan sesak yang mulai sedikit-sedikit menyeruak. Pesanku sederhana, camkan dalam hati, agar tidak salah dalam melangkah.
Jangan sembarangan berjanji. Kalau tak yakin bisa memenuhinya. Karena janji bisa sebau kentut. Angin busuk dari perut yang memualkan siapa saja. Dan janji yang terbengkalai adalah sampah. Siapa yang mau sampah?
Apa wacana hari ini? Apa alasan yang bisa diciptakan lagi untuk menyamarkan janji? Sadarkah setiap alasan adalah kentut-kentut baru yang semakin lama semakin mengotori udara?
Dan hati bisa semakin mengeras bila terus dihembusi dengan kentut-kentut janji yang tak kunjung ditepati. Bau busuk. Tak berdaya. Beralasan terus. Satu kebohongan menutupi kebohongan yang lain begitu terus menerus, dampai kepala akhirnya harus membentur dinding. Pecah…. berdarah…. dengan otak berceceran. Dan jiwa yang melayang merana.
Cinta berakhir karena sebuah janji? Apakah tak ada pengampunan? Seperti pertobatan atau pemutihan? . Sayangnya hati bukan Yayasan atau Lembaga atau Agama. Tak ada penawaran yang ditawarkan hati. Toleransi mungkin ada. Namun tetap terbatas dan mereka menyebutnya kesabaran.

Hati-hati memperlakukan hati. Hati tak suka dibohongi. Diperkosa. Dibiarkan merana. Hati juga ingin dipercayai. Bukan untuk dicurigai. Atau ditanyakan ‘kau sebenarnya siapa?’
Tak ada kejujuran murni. Bahkan kepada istri dan anak saja tidak bisa jujur. Lalu mengapa harus memaksakan jujur pada hati? Hati punya toleransi. Tapi hati juga egois dan gampang tersakiti.
Namun hati tak bisa dibohongi. Cinta dan sayang, hati yang tahu. Bukan mulut atau mata yang merasa. Tapi hati yang merangkulnya. Lalu, bagaimana bisa kau mengelabui hati, mungkar dari janji dan sejuta alasan seperti kentut terhembus membuat hati mengeras seperti hepatities?
Camkan dengan telunjuk. tusuk dan ungkit sedikit ke atas sebatas jari. Jangan kasar, karena hati bisa tersakiti. Hati-hati sekali lagi.
"Ketahuilah bahwa sesungguhnya di dalam jasad ada segumpal daging, apabila ia baik, maka baiklah seluruh jasad, dan apabila rusak maka rusaklah jasad, itu qalb (hati nurani)." HR. Bukhori
Imam Al-Ghazali menggambarkan hati ke dalam tiga macam :
pertama, hati yang shahih (sehat), yaitu hati yang bisa menjadi salim (selamat), hati yang semacam ini yang dijanjikan akan dapat bertemu dengan Allah (QS. asy-syu'ara [26]: 88-99)
kedua, hati yang mayyit (mati) yaitu hati semacam ini yang akan menghalangi datangnya petunjuk. (QS. al-baqarah [2]:6-7 dan al-muthaffifin [83]:13-14)
ketiga, hati yang maridl(sakit) yaitu hati yang di dalamnya ada iman, ada ibadah, ada pahala tetapi juga ada kemaksiatan dan dosa-dosa (kecil/besar)
"Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami, atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang ada di dalam dada." (QS. al-Hajj [22]:46)

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Kunjungan


Aktifitas

Uzy Ibni Muhammad Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template